Kamis, 24 April 2008 | 18:35 WIB
JAMBI, KAMIS – Teknologi pemanfaatan limbah cair pabrik karet menjadi minyak tanah dan solar ditemukan oleh Ahmad Rasno dan Zulkifli Maulana, warga Kebun Sembilan, Sungai Gelam, Muaro Jambi, setahun lalu. Temuan ini sayangnya nyaris sia-sia karena tidak mendapat dukungan pemerintah daerah setempat. Teknologi ini dapat mengolah limbah menjadi energi yang terbarukan. Dari limbah karet cair sisa olahan pabrik dapat menghasilkan minyak tanah dan solar sebanyak 80 persennya , melalui proses penyulingan. Dari 100 liter limbah misalnya, akan menghasilkan 80 liter minyak tanah/solar.
Menurut Zulkifli, sejak teknologi ini ditemukan, mesin tungku yang dimilikinya mampu menghasilkan 1-1,5 ton minyak tanah/solar setiap hari. Penemuan ini semula ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar mesin cetak batu bata bagi 60 keluarga perajin bata setempat yang tergabung dalam Koperasi Berkat Doa Bersama.
Sejak diujicobakan, teknologi ini berhasil menyabet Juara I Lomba Teknologi Tepat Guna Tingkat Nasional yang diselenggarakan TVRI Tahun 2007. Mereka juga diundang untuk mengikuti Pameran Nasional Teknologi Tepat Guna di Manado, November 2007. “Akan tetapi, sejauh ini belum ada dukungan moril maupun materil dari pemerintah daerah, ” tuturnya, Kamis (24/4).
Pihaknya tidak dapat berproduksi secara tetap karena terbentur aturan perizinan. Empat perizinan yang menurutnya sulit didapat sampai sekarang adalah, izin menampung, mengangkut, memanfaatkan, dan mengolah limbah cair. Menurut Zulkifli, pihaknya telah sempat melakukan pengurusan di Kementrian Lingkungan Hidup, namun proses perizinan kemudian dialihkan ke Bapedalda Provinsi Jambi. Hingga saat ini, pihaknya belum juga dapat mengantongi izin tersebut, yang berarti teknologi mereka nyaris sia-sia. Pihaknya memohon rekomendasi Bupati Muaro Jambi untuk dapat memanfaatkan limbar cair dari pabrik karet, akan tetapi tak ada tanggapan sama sekali.
Menurut Zulkifli, potensi pemafaatan limbah cair karet cukup besar. Terdapat delapan pabrik pengolahan karet di Kota Jambi dan sekitarnya, yang masing-masing menghasilkan limbah 60-100 liter per hari. Selain limbah cair olahan karet, limbah rig hasil pengeboran minyak mentah juga bisa diolah menjadi solar dan minyak tanah. Selain terbentur masalah perizinan, Zulkifli dan Rasno tak dapat mematenkan hasil temuan mereka, karena mesin tungku dan pipa besi yang mereka gunakan adalah barang bekas.
Ditemukannya teknologi pengolahan limbah cair pabrik karet menjadi minyak tanah dan solar, menurutnya, berawal dari kesulitan para perajin setempat mendapatkan bahan baku kayu bakar untuk memasak batu bata. Ahmad Rasno yang pernah bekerja di bengkel, mencoba sistem penyulingan limbah karet ini, yang menghasilkan minyak tanah dan solar sebagai pengganti kayu bakar. Zulkifli kemudian menyempurnakan teknologi ini dengan memasangkan sistem pendinginan, untuk mempercepat proses produksi minyak.

Teknologi Pemanfaatan Limbah Cair Nyaris Sia-sia
April 27, 2008
PERENCANAAN INDUSTRI LAPIS LISTRIK
April 27, 2008By: Pradoto Ambardi, Ir
Dosen Teknik Metalurgi UNJANI-BANDUNG
ASPEK EKONOMI
Sebagai dasar dalam pembuatan cash flow suatu industri diperlukan pemahaman mengenai macam-macam biaya seperti :
1. Sunk Cost
Biaya yang sudah dikeluarkan dan dibebankan kedalam suatu proyek pada masa lampau. Biaya ini tidak dihitung lagi dalam evaluasi suatu proyek.
2. Studi Teknis dan Studi Kelayakan (engineering and feasibility studies)
Studi kelayakan diadakan untuk menentukan apakah suatu proyek akan dilaksanakan atau tidak. Jadi pengeluaran biaya pada saat studi kelayakan terjadi sebelum ada keputusan tentang pelaksanaan proyek, sehingga bagi proyek biaya tersebut dianggap sebagai Sunk cost.
Studi teknis meliputi :
a. Disain pendahuluan (preliminary design)
Disain ini dibuat pada saat mengadakan studi kelayakan, karena itu tidak dimasukkan ke dalam biaya investasi proyek.
b. Disain akhir (final design)
Disain ini dibuat setelah ada keputusan bahwa proyek akan dilaksanakan, karena itu biaya desain ini dimasukkan dalam biaya investasi proyek (kecuali jika disain akhir ini dibiayai dengan kredit terikat).
3. Biaya Pembelian Alat dan Pemasangan
Biaya ini dapat dimasukan sekaligus dalam investasi atau berangsur yang merupakan angsuran hutang dan bunganya. Biasanya biaya ini juga memiliki salvage value.
4. Bunga Selama Masa Konstruksi, Angsuran Hutang + Bunga
Angsuran hutang + bunga yang dimasukan ke dalam investasi adalah angsuran bunga yang pada waktu jatuh tempo. Kalau biaya investasi dibebankan pada waktu diadakan investasi, bunga selama masa konstruksi tidak dihitung sebagai biaya ekonomik, tetapi jika biaya investasi diperhitungkan pada waktu pelunasan pinjaman dan bunganya, maka pembayaran bunga selama konstruksi perlu diperhitungkan dalam biaya ekonomik. Baca entri selengkapnya »

Mutu Pendidikan Dikorbankan
April 20, 2008Pemangkasan Anggaran,
Mutu Pendidikan Dikorbankan
[JAKARTA] Pemerintah dinilai tidak memiliki niat baik terhadap kualitas pendidikan nasional. Pemangkasan anggaran di sektor pendidikan merupakan pelanggaran terhadap UUD 1945 dan UU No 23/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengakibatkan mutu pendidikan terombang-ambing. Baca entri selengkapnya »

Situs Uji Publik RUU BHP
Desember 26, 2007alamat situs uji publik Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan http://pih.diknas.go.id/bhp/
Ayo berkomen2 disana

RUU BHP Cegah Liberalisasi dan Neokapitalisme Pendidikan
Desember 26, 2007dpr.go.id,
Rancangan Undang undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) terus digulirkan menjadi undang-undang. Diharapkan UU ini nantinya dapat mengakomodir kepentingan semua pihak, demi mencegah liberalisasi dan neokapitalisme pendidikan.Hal ini disampaikan Ketua Panja RUU BHP Heri Akhmadi dalam keterangan pers, Kamis (6/12), di Gedung DPR, Jakarta. Turut hadiri dalam keterangan pers tersebut di antaranya Ketua Tim Perumus (Timus) BHP Anwar Arifin, Sekretaris Majelis Pendidikan Dewan Pendidikan Tinggi Direktorat Pendidikan Tinggi, Depdiknas Yohannes Gunawan. Menurut Heri, RUU BHP ini merupakan naskah terakhir hasil kerja panja RUU BHP. Secara resmi RUU ini sudah diajukan pemerintah sejak 21 Maret 2007 lalu.RUU ini terdiri dari 13 Bab dan 58 pasal, yaitu bab 1 Ketentuan Umum, bab II: Jenis, Bentuk, Pendidikan, dan Pengesahan, bab III: Tata Kelola, bab IV: Kekayaan, bab V: Pendanaan, bab VI: Akuntabilitas dan Pengawasan, bab VII: Ketenagaan, bab VIII: penggabungan, bab IX : Pembubaran, Bab X: Sanksi Administratif, bab XI: Sanksi Pidana, bab XII: Ketentuan Peralihan, bab XIII: Ketentuan Penutup.”RUU ini paling banyak ditolak oleh kalangan mahasiswa, karena dianggap sebagai biangnya liberalisasi dan neokapitalisme. Sementara dari kalangan yayasan, seeperti yayaasan Muhamadyah dan NU menolak karena negara terlalu mengatur masalah pendidikan, padahal sebelum kemerdekaan, kedua yayasan tersebut sudah lama berkecimpung di bidang pendidikan. Semoga RUU ini dapat mencegah unsur liberalisasi dan neokapitalisme pendidikan yang dikhawatirkan selama ini,” kata Heri yang juga Wakil Ketua Komisi X DPR dari F-PDI Perjuangan. Baca entri selengkapnya »

Hemat Biaya, Gunakan “Open Source” Gratis
November 19, 2007Kuta, Kompas – Percepatan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau TIK dalam dunia pendidikan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, terutama sektor usaha. Adapun untuk menekan biaya pembelajaran berbasis TIK, disarankan menggunakan open source software gratis yang banyak tersedia.Demikian salah satu rekomendasi yang dihasilkan dalam International Symposium on Open, Distance, and E-Learning (ISODEL) 2007 di Kuta Bali, akhir pekan lalu.
Seperti diungkapkan Ketua Panitia ISODEL sekaligus Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Departemen Pendidikan Nasional Lilik Gani, secara umum teknologi informatika masih terbilang mahal. Karena itu, dirasa perlu untuk pembagian tanggung jawab antara pemerintah dan sektor privat dalam pengembangan teknologi yang lebih murah bagi kepentingan pendidikan. Forum tersebut juga menegaskan pentingnya komitmen dan ketegasan pemerintah dalam percepatan TIK di dunia pendidikan. “Lembaga pendidikan dapat menjadi tempat untuk pembelajaran TIK sehingga nantinya terwujud masyarakat melek digital,” ujar Lilik.
Kualitas pembelajaran
Rekomendasi lainnya yang dihasilkan dalam forum tersebut ialah pembelajaran berbasis TIK harus terjamin kualitasnya seperti halnya pendidikan konvensional sehingga dibutuhkan standardisasi secara nasional nantinya. Namun, tentu saja standardisasi tersebut dengan indikator berbeda karena media yang digunakan tidak sama.
Terkait dengan ketersediaan materi pembelajaran berbasis TIK tersebut, Lilik mengatakan, pihaknya sedang merancang komunitas penyedia isi (E-content). Setelah terbentuk, komunitas itu diharapkan dapat membantu mengontrol kualitas isi pembelajaran, menciptakan jaringan untuk memproduksi sumber-sumber belajar berbasis TIK, dan menjadi partner pemerintah dalam membangun policy yang sesuai kebutuhan pasar.
Lilik mengatakan, rekomendasi simposium tersebut akan diserahkan ke Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo sebagai masukan dalam pembuatan kebijakan terkait TIK dalam dunia pendidikan.
Dukungan infrastruktur
Saat memberikan pengarahan kepada peserta ISODEL 2007, Menteri Komunikasi dan Informatika Mohammad Nuh mengatakan, pengembangan sistem pembelajaran jarak jauh, terbuka atau berbasis internet (E-Learning) membutuhkan dukungan infrastruktur informatika yang memadai. Sejauh ini, infrastruktur tersebut masih sangat terbatas. Namun, diperkirakan pada akhir tahun 2008 atau setidaknya awal 2009, infrastruktur tersebut sebagian besar telah terpenuhi.
Nuh menambahkan, saat ini pengguna internet di Indonesia baru sekitar 18 juta orang atau sekitar 5 persen dari jumlah penduduk. Adapun dari 72.000 desa di Indonesia, masih terdapat 38.000 desa yang belum tersambung dengan perangkat komunikasi dan informasi. (INE)

Indonesia Absen di antara 200 Universitas Terbaik Dunia
November 16, 2007Sejumlah universitas di Indonesia belum satu pun masuk daftar 200 perguruan tinggi terbaik di dunia versi ‘Times Higher Education Supplement-QS’ 2007. Bahkan satu-satunya negara anggota Perhimpunan Negara Negara Asia Tenggara (ASEAN) yang mewakili daftar bergengsi itu hanyalah Singapura.Singapura berhasil menempatkan dua universitasnya di antara 200 perguruan tinggi terbaik versi ‘THES-QS World University Ranking’ yang resmi diumumkan 8 November lalu itu, yakni Universitas Nasional Singapura (33) dan Universitas Teknologi Nanyang (69). Seperti tahun-tahun sebelumnya, 10 universitas terbaik dunia masih didominasi lembaga-lembaga pendidikan tinggi Amerika Serikat (AS) dan Inggris.
Ke-10 perguruan tinggi itu adalah Universitas Harvard (1), Universitas Cambridge (2), Universitas Oxford (2), Universitas Yale (3), Kolese Imperial London (5), Universitas Princeton (6), Institut Teknologi California (7), Universitas Chicago (7), Universitas Kolese London (9), dan Institut Teknologi Massachusetts (MIT, 10).
Australia sebagai negara maju terdekat dari Indonesia berhasil menempatkan 12 universitasnya di daftar bergengsi tersebut.
Ke-12 universitas itu adalah Universitas Nasional Australia (16), Universitas Melbourne (27), Universitas Sydney (31), Universitas Queensland (33), Universitas Monash (43), Universitas New South Wales (44), Universitas Adelaide (62), Universitas Australia Barat (64), Universitas Macquarie (168), Universitas Teknologi Queensland (195), Universitas Wollongong (199), dan Universitas RMIT (200).
Jepang diwakili Universitas Tokyo (17), Universitas Kyoto (25), dan Universitas Osaka (46), sedangkan China diwakili Universitas Hong Kong (18), Universitas Peking (36), Chinese University of Hong Kong (38), serta Universitas Tsinghua (40) dalam daftar 50 universitas terbaik dunia.
Times Higher Education Supplement-QS mendasarkan metode penilaiannya pada kriteria seperti peer review yang melibatkan 5.101 akademisi, recruiter review yang melibatkan 1.482 perusahaan internasional, rasio fakultas internasional, rasio mahasiswa internasional, rasio fakultas-mahasiswa, dan situasi per fakultas. (Ant/OL-06)

Depdiknas Bakal Borong Komputer Rp 1 Triliun
November 16, 2007Ardhi Suryadhi – detikinet
Denpasar
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada 2008 akan membeli komputer dalam jumlah besar untuk disalurkan ke sekolah-sekolah di Indonesia. Dana yang dianggarkan bahkan mencapai Rp 1 triliun.
Kepala Pustekom Depdiknas Lilik Gani mengatakan, dari jumlah Rp 1 triliun tersebut, Rp 500 miliar di antaranya dianggarkan untuk SMA dan SMK sedangkan Rp 500 miliar sisanya untuk SMP.
“Dana tersebut digunakan untuk membuat pusat sumber belajar (PSB) atau semacam lab komputer di sekolah,” ujarnya, kepada beberapa wartawan di sela-sela acara ISODEL 2007 yang berlangsung di Hotel Kartika Plaza
Discovery, Denpasar, Bali, Rabu (15/11/2007).
Sementara untuk penyaluran, lanjut Lilik, akan dilakukan dengan strategi top down.
Artinya untuk sekolah-sekolah yang siap akan menjadi prioritas untuk disalurkan perangkat ini. Sedangkan bagi sekolah yang jauh tertinggal
akan dipersiapkan terlebih dahulu, mulai dari segi infrastruktur dan lainnya. Hal ini dilakukan agar komputer-komputer tersebut tidak
mubazir.
“Misalnya untuk di Indonesia bagian Timur, kita tidak mungkin memberikan komputer kalau infrastruktur dan jaringannya tidak kita bangun. Sehingga biar tidak menjadi garbage (sampah-red), makanya nanti ada Palapa Ring untuk penyediaan infrastruktur,” jelasnya.
Program PSB ini sekaligus untuk mengejar target perbandingan antara
jumlah komputer dengan jumlah penduduk Indonesia menjadi 1:20,
sedangkan saat ini perbandingannya masih sebesar 1:50. “Untuk 1 set
lab PSB diperkirakan bakal menghabiskan dana sekitar Rp 120 juta dengan memiliki 20 komputer di dalamnya,” imbuh Lilik.
Sementara itu dari data yang dimiliki Depdiknas, tercatat bahwa 70% SMK di Indonesia sudah memiliki laboratorium komputer sendiri, untuk SMA 30%, sedangkan SMP 20%. “Sedangkan untuk perguruan tinggi tidak dibantu karena mereka telah swasembada dan mandiri, namun untuk perguruantinggi negeri semuanya sudah memiliki lab komputer,” tandasnya.
( ash / wsh )






